Bahaya CT Scan Pada Anak Picu Kanker

bahaya-ct-scan-pada-anak-picu-kankerSeringkali orangtua sudah merasa panik ketika anaknya jatuh dari tempat tidur. Bahkan saat anaknya terjatuh terpeleset lantai dengan kepala terbentur langsung menuntut dokter untuk memeriksa CT Scan. Dam dokterpun seringkali meluluskan permintaan orangtua tanpa memberi penjelasan perlu tidaknya pemeriksaan dan dampak pemeriksaan CT Scan. Kekwatiran orangtua tidak bisa disalahkan apalagi saat mendengar mitos bahwa saat anaknya jatuh sekarang tanpa gejala tetapi dampaknya akan terjadi saat besar. Mitos yang tidak benar ini menghantui para orangtua sehingga melakukan tindakan yang berlebihan tanpa memahami permasalahan yang terjadi.

Radiasi yang dari pemeriksaan CT scan ternyata lebih besar dari yang diperkirakan, dan bisa menimbulkan kematian. Hal tersebut menurut penelitian yang dipublikasi dalam Archives of Internal Medicine. Hasil penelitian menunjukkan radiasi dari CT scan pada 2007 menjadi pemicu 29.000 penyakit kanker dan menimbulkan kematian 15.000 warga Amerika Serikat.

“Yang kita pelajari adalah efek radiasi dari CT scan lebih dari yang diperkirakan dan memicu timbulnya banyak penyakit kanker,” kata Dr. Rita Redberg, editor dari Archives of Internal Medicine, seperti WartaSolo kutip dari MSNBC.

CT scan banyak dilakukan oleh dokter untuk bisa melihat kondisi organ tubuh bagian dalam. Biasanya CT scan dilakukan untuk mengurangi atau menghindari tindakan operasi. Tetapi, CT scan ternyata memaparkan radiasi yang lebih banyak dibandingkan peralatan sinar X yang konvensional.

Tim peneliti menganjurkan para tim medis untuk meminimalisasi pemeriksaan pasien menggunakan CT scan. Cara lainnya adalah dengan membatasi dosis pemeriksaan CT Scan dan membuat standarisasi. Hal itu untuk menghindari dampak buruk dari CT scan karena fungsi utamanya adalah membuat pemeriksaan yang detil demi kesehatan pasien.

CT scan (Computed Tomography scan) adalah perpaduan teknologi sinar X dan komputer untuk menghasilkan gambar organ tubuh bagian dalam secara melintang. Dalam pemeriksaan ini pasien berbaring pada alas untuk kemudian dimasukkan dalam tablet besar yang bentuknya seperti donat. Lalu, diberikan radiasi dengan dosis tertentu dari segala arah. Proses tersebut hanya memakan waktu beberapa menit saja dan hasilnya sangat detail.

CT Scan menggabungkan antar sinar-X khusus dengan peralatan komputer canggih untuk menghasilkan gambar bagian dalam tubuh. Gambar akan memperlihatkan penampang dari daerah yang sedang dipelajari dan selanjutnya dapat diperiksa pada monitor komputer atau dicetak. Hasil gambar dari CT Scan untuk organ dalam, tulang, jaringan lunak dan pembuluh darah terlihat lebih jelas dan lebih detail serta menyediakan informasi yang lebih rinci mengenai cedera kepala, stroke, tumor otak dan penyakit otak lainnya dibandingkan radiografi sinar-X biasa.

Penggunaan CT Scan sering digunakan untuk alat diagnosis pada permasalahan kesehatan anak. Pada umumnya indikasi klinis pemeriksaan CT Scan sangat ketat kecuali kasus trauma kepala atau anak yang jatuh dengan trauma kepala. Sebenarnya tidak semua anak jatuh atau terbentur kepala harus dilakukan CT Scan kepala. Saat ini sebagian besar orang tua bahkan dokter telah melakukan pemeriksaan berlebihan pada anak dengan trauma kepala pada anak. Orangtua seringkali mudah panik saat anak jatuh dari tempat tidur atau jatuh terbentur terkena kepala. Padahal pada umumnya trauma kepala yang ringan tidak perlu pemeriksaan penunjjang seperti CT Scan atau rontgen kepala. Pemeriksaan CT Scan kepala sangat dianjurkan bila dijumpai: kelainan neurologis fokal, fraktur atau retak tulang kepala, adanya kejang, status mental menurun atau hilangnya kesadaran yang lama. Dalam beberapa kasus lainnya, CT scan mutlak diperlukan – misalnya, untuk mendiagnosis trauma kepala berat atau luka, untuk sakit perut akut, atau untuk mendiagnosis kanker yang ada. Dampak CT Scan Dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak lebih sensitif terhadap radiasi karena mereka memiliki harapan hidup lebih lama dan karena sel-sel mereka membelah lebih cepat, membuat DNA mereka lebih rentan terhadap kerusakan. Risiko anak terkena kanker fatal dari satu CT scan setinggi 1 dalam 500.

Para ilmuwan hanya menyarankan agar dokter tidak merekomendasikan penggunaan sinar X jika tidak benar-benar diperlukan atau malah melakukan tindakan pencegahan khusus melalui penggunaan CT scan. Karena alat diagnostik ini lebih berpotensi memberikan paparan radiasi berbahaya untuk tubuh. Komunikasi yang baik antara dokter dan pasien seharusnya dapat memenangkan keinginan berlebihan orangtua untuk melakukan pemeriksaan CT Scan pada anaknya padahal tidak diperlukan. Bukan sebaliknya dokter terbawa emosi dan kepanikan orangtuanya sehingga tetap meluluskan permintaan orangtua yang sebenarnya tidak perlu. Padahal CT Scan tidak murah dan bisa berdampak buruk meski sangat jarang. [Yuni – WartaSolo.com]